Pengikut

Jumat, 01 Juni 2018

KETIKA LITERASI MENCOLEK ANGAN

Ketika  Literasi Mencolek Angan
Oleh  Rubaida Rose Guru MA PP. Nurul Islam Kabupaten Kuantan Singingi Prov. Riau
         
 Ketika literasi mencolek angan, hasrat hati yang terdalam mampu mengusik alam pikiran, ketika asa bersemayam di badan hendak menyampaikan keinginan dalam beragam isyarat, isyarat berupa ungkapan pesan melalui media lisan maupun tulisan yang tersaji secara indah dan menawan. Keindahan yang mampu menimbulkan pesona akan terbitnya angan untuk mampu mengetahui  lebih mendalam. Proses angan untuk mampu menyampaikan isyarat tersebut membutuhkan keterampilan berbahasa, keterampilan dari merangkai aksara menjadi kata yang bermakna dalam jalinan kalimat yang sempurna, untuk menghasilkan rangkaian kalimat yang memuat makna, berkaitan dengan pengunaan ragam bahasa yang tepat yang sesuai. Hal ini dilakukan untuk mengindari miss comunication, antara penyampai pesan dan penerima pesan. Literasi merupakan jalan untuk memaknainya secara berkesinambungan dalam bentuk isyarat yang dipakai dalam berkomunikasi. Dengan literasi yang baik angan dapat mengungkap dan menangkap pesan secara utuh dan sempurna.
Secara bahasa, literasi adalah keberaksaraan yaitu kemampuan menulis dan membaca (the ability read and write ). Menghapus makna dari istilah usang literasi yang merujuk pada sosok buta huruf atau tidak punya kemampuan dalam membaca. Menurut Sulzby ( 1986) Pengertian literasi adalah kemampuan berbahasa seseorang ( menyimak, berbicara, membaca dan menulis) untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda sesuai tujuannya. Menurut Graff (2006) Graff mendefinisikan literasi  sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Seiring perkembangan zaman literasi telah memiliki perkembangan dalam maknanya. Mreebody Luke terdapat 4 model dalam literasi yakni : memahami konteks dalam teks, Terlibat dalam memaknai teks, mengunakan teks secara fungsional dan melakukan analisis dan mentransformasikan teks secara kritis.
Ditanah air ku Indonesia peringatan hari literasi diadakan setiap tanggal 8 September meski UNESCO mencanangkan sejak 17 November 1965 silam. Mirisnya lagi negara tumpah darah ku Indonesia adalah salah satu negara tertinggal dalam gerakan literasi karena masih kurangnya minat membaca hampir di tiap kalangan rentang usia. Bahkan masih ada juga ditiap perkembangan generasi yang masih belum mampu menulis dan membaca. Hal tersebut sangat menyayat hati dan menusuk sanubari. Karena dalam perkembangan teknologi yang kian pesat masih ada jiwa-jiwa yang tak tersentuh oleh literasi. Hal ini menyentuh hati pemerintah Indonesia untuk melakukan gerakan literasi sekolah yang di prioritaskan untuk anak usia sekolah. Gerakan literasi ini di lakukan untuk meningkatkan minat  membaca dan menulis. Meskipun dalam kenyataan nya menumbuhkan minat membaca sangat sulit di lakukan karena membaca dan menulis belum menjadi kebiasaan tiap kalangan. Kebiasaan membaca belum di tanamkan sejak dini karena pembiasan ini tak di mulai dari kebiasaan hidup di dalam keluarga, orang tua tidak membiasaakan anak-anak mereka untuk membaca apalagi membelikan anak-anak mereka buku-buku bacaan yang cocok dengan usia mereka. Membaca menjadi hal yang sepele dan tidak menarik hati generasi apalagi menjadikan nya sebagai hoby. Hal ini nyata terjadi dalam kehidupan literasi yang ada di Indonesia.
Di sisi lain kualitas pendidikan yang masih minim pemerataan akan sarana dan prasarana tidak merata. Masih terdapat anak-anak usia sekolah yang tidak lagi mengenyam pendidikan, merka di sibukan dengan aktifitas yang tak wajar harus membantu orang tua mencari nafkah guna makan dari hari ke hari. Kemiskinan yang mendera mereka memunculkan suasana keterpaksaan yang acap kali terjadi, mereka tidak lagi berpikir bagaimana membaca dan menulis yang mereka tau hanya bagiaman hari ini bisa makan dan hari esok bisa bekerja lagi melanjutkan hidup mereka yang kian terancam. Mereka seolah tersingkir dari pesatnya perkembangan tehnologi yang tak mereka rasakan manfaatnya karena teknologi yang merubah dunia dan merubah peradaaban tak merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hal ini menjadi salah satu sebab  terhambatnya gerakan literasi pada jiwa mereka ini nyata dan tak bisa di pungkiri akan ketidak selarasan yang kerap terjadi dan mendekap tak berhenti.
Keterbatasan produksi buku dan penerbitan buku di Indonesia menjadi penyebab ketidak berhasilan dalam mencapai tujuan gerakan literasi karena tak bisa kita berkata bohong akan  harga buku yang mahal, stock buku yang terbatas. Hal yang sangat memprihatinkan adalah mahalnya biaya produksi buku dari penerbit sementara royalty buku tersebut sangat minim. Secara tak langsung hal ini membunuh profesi penulis dan pengarang dari kreatifitas dan kegemaran nya dalam menulis buku-buku yang bernilai jual tinggi namun tidak di hargai dengan kualitas yang di beri. Belum lagi  peraturan dalam negeri yang mempersulit untuk penerbitan buku yang kian marak di instanti instansi tertentu. Hal ini membuat literasi di Indonesia jadi layu, mengantuk dan mati suri.
Melaksanakan Kurikulum 2013 merupakan salah satu upaya yang di lakukan oleh pemerintah mensiasati kegiatan  wajib literasi. Kegiatan ini bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa guru dan semua orang yang berpartisipasi dalam melaksanakan kurikulum tersebut akan pentingnya membaca dan menulis. Gerakan literasi tersebut diantaranya adalah yang pertama adalah memberikan keteladanan kepada siswa supaya siswa ikut tergugah hatinya saat melihat gurunya rajin membaca dan semua personil yang ada di sekolah ikut memberikan model yang benar akan kegemaran untuk membaca bukan hanya semboyan saya. Gerakan literasi yang kedua  melaksanakan jadwal wajib kunjung perpustakaan. Siswa diberi kesempatan untuk belajar diperputakaan dengan membaca buku-buku sebagai referensi akan tugas yang di berikan. Siswa diarahkan untuk menulis hasil kerjanya dalam bentuk laporan melampirkan alasan dan sumber yang mereka dapatkan. Siswa diminta untuk memaparkan hasil kerja mereka dengan menyampaikan secara lisan dan di simak olaeh siswa yang lain. Setelah selesai hasil kerja mereka ditempelkan di dinding kelas atau di madding sebagai apresiasi atas kerja keras mereka hari ini. Hal ini dapat di lakukan berulang-ulang agar kebiasan mereka membaca menjadi tersimulasi dan terjadwal mengarah pada pembiasaan dini.
Gerakan lirerasi yang  ketiga  bisa di lakukan pada siswa adalah memberikan mereka tugas membaca diluar jam belajar sebelum pelajaran di mulai. Mereka di minta untuk membaca kisah-kisah infiratif atau mendengar kisah insfiratif boleh saat mereka berada di rumah atau di luar rumah bersama teman-teman mereka.  Guru akan memulai pelajaran dengan meminta siswa untuk mengulang kisah yang di bacanya di depan kelas sebagai ice breaking beberapa saat sebelum pelajaran dimulai. Sebelumya orang tua di undang ke sekolah untuk di berikan pengertian agar mendukung program literasi kepada anak-anak mereka saat mereka berada di rumah. Orang tua mengarahkan wisata mereka ke took-toko buku dan pusat literasi agar anak-anak akan termotivasi untuk  membaca dan membeli buku.
Gerakan literasi yang keempat adalah posterisasi sekolah dengan membuat poster-poster yang memuat himbauan untuk gemar membaca buku, membentangkan poster ke setiap sudut-sudut sekolah agar dapar di baca oleh siap oaring yang lewat, memuat kata-kata mutiara yang mengajak orang untuk rajin membaca denga sejuta manfaat yang akan didapatkan.dengan harapan mengugah setiap hati yang membaca ajakan tersebut nantinya.
Gerakan literasi yang kelima membiasakan siswa untuk membuat pohon-pohon literasi sebagai hiasan di ruang kelas, di taman-taman bersantai di sekitar sekolah dengan beraneka ragam bentuk pohon-pohon yang menarik hati untuk di baca meski hanya berisi kata kata singakt namun memuat makna yang mudah di ingat karena selau di baca dan lihat setiap kali lewat.
Gerakan literasi keenam membuat ruang-ruang yang tak terpakai sebagai tempat membaca di buat seindah mungkin dengan beraneka ragam buku yang tersedia untuk menarik minat membaca siswa saat istirahat dan mengisi waktu luang di sekolah. Saat menunggu waktu sholat misalnya di siapkan sudut ruangan untuk menyediakan taman bacaan yang akan membuat siswa selalu terbiasa dengan buku-buku bacaan yang ada. No Day without Reading ( tidak ada hari tanpa membaca )
Gerakan literasi ketujuh membuat madding literasi di setiap kelas setiap selesai pembelajaran siswa bisa menempelkan hasilkarya mereka di madding literasi tersebut dengan model yang mereka sepakati di kelas guru hanya mengarahkan seanjutnya memberikan mereka kepercayaan untuk membuat seindah mungkin sesuai kreasi yang mereka inginkan. Tanpa memaksa dengan model yang guru wajibkan.
Gerakan literasi kedelapan membuat kata-kata motivasi  mengunakan alat alat ketemapilan dari bahan bekas yang bisa di pajang di dinding-dinding kelas dengan kreasi yang indah san menarik sesuai yang siswa inginkan. Ini dapat di alkukan di awal semester saat pelajaran keterampilan di laksanakan.
Gerakan literasi kesembilan adalah mengadakan lomba duta membaca melalui rekapitulasi hasil kerja pengelola pustaka memilih bebrapa nama siswa yang menjadi duta membaca karena keaktifan nya yang sellu berkunjung ke pustaka untuk membaca buku. Ini dapat di lakukan agar siswa termotivasi untuk selalu membaca dan menjadikan pustaka sebagai tempat rekreasi bersama teman-temannya.
Gerakan literasi terakhir adalah lomba karya literasi antar kelas  dengan lomba membuat mading, lomba membuat pohon literasi, lomba kelas penuh nuansa literasi dengan tema yang memuat kaidah dan hakikat literasi itu sendiri. Dengan gerakan literasi tersebut di atas semoga mampu menginsfirasi antar generasi mencapai tujuan literasi tersebut dalam menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui pembudidayaan ekosistem literasi sekolah yang di wujudkan dalam gerakan literasi sekolah agar menajdi pembelajar sepanjang hayat






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Statistik Blog

SILABUS MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

BERIKUT SILABUS MAPEL BAHASA INGGRIS