Ketika
Literasi Mencolek Angan
Oleh Rubaida Rose Guru MA PP. Nurul Islam Kabupaten Kuantan Singingi Prov. Riau
Ketika literasi mencolek angan, hasrat hati
yang terdalam mampu mengusik alam pikiran, ketika asa bersemayam di badan
hendak menyampaikan keinginan dalam beragam isyarat, isyarat berupa ungkapan
pesan melalui media lisan maupun tulisan yang tersaji secara indah dan menawan.
Keindahan yang mampu menimbulkan pesona akan terbitnya angan untuk mampu mengetahui
lebih mendalam. Proses angan untuk mampu
menyampaikan isyarat tersebut membutuhkan keterampilan berbahasa, keterampilan
dari merangkai aksara menjadi kata yang bermakna dalam jalinan kalimat yang
sempurna, untuk menghasilkan rangkaian kalimat yang memuat makna, berkaitan
dengan pengunaan ragam bahasa yang tepat yang sesuai. Hal ini dilakukan untuk
mengindari miss comunication, antara
penyampai pesan dan penerima pesan. Literasi merupakan jalan untuk memaknainya secara
berkesinambungan dalam bentuk isyarat yang dipakai dalam berkomunikasi. Dengan
literasi yang baik angan dapat mengungkap dan menangkap pesan secara utuh dan
sempurna.
Secara bahasa,
literasi adalah keberaksaraan yaitu kemampuan menulis dan membaca (the ability read and write ). Menghapus
makna dari istilah usang literasi yang merujuk pada sosok buta huruf atau tidak
punya kemampuan dalam membaca. Menurut Sulzby ( 1986) Pengertian literasi
adalah kemampuan berbahasa seseorang ( menyimak, berbicara, membaca dan
menulis) untuk berkomunikasi dengan cara yang berbeda sesuai tujuannya. Menurut
Graff (2006) Graff mendefinisikan literasi
sebagai kemampuan untuk membaca dan menulis. Seiring perkembangan zaman
literasi telah memiliki perkembangan dalam maknanya. Mreebody Luke terdapat 4
model dalam literasi yakni : memahami konteks dalam teks, Terlibat dalam
memaknai teks, mengunakan teks secara fungsional dan melakukan analisis dan
mentransformasikan teks secara kritis.
Ditanah air ku
Indonesia peringatan hari literasi diadakan setiap tanggal 8 September meski
UNESCO mencanangkan sejak 17 November 1965 silam. Mirisnya lagi negara tumpah
darah ku Indonesia adalah salah satu negara tertinggal dalam gerakan literasi
karena masih kurangnya minat membaca hampir di tiap kalangan rentang usia.
Bahkan masih ada juga ditiap perkembangan generasi yang masih belum mampu
menulis dan membaca. Hal tersebut sangat menyayat hati dan menusuk sanubari.
Karena dalam perkembangan teknologi yang kian pesat masih ada jiwa-jiwa yang
tak tersentuh oleh literasi. Hal ini menyentuh hati pemerintah Indonesia untuk
melakukan gerakan literasi sekolah yang di prioritaskan untuk anak usia
sekolah. Gerakan literasi ini di lakukan untuk meningkatkan minat membaca dan menulis. Meskipun dalam kenyataan
nya menumbuhkan minat membaca sangat sulit di lakukan karena membaca dan
menulis belum menjadi kebiasaan tiap kalangan. Kebiasaan membaca belum di
tanamkan sejak dini karena pembiasan ini tak di mulai dari kebiasaan hidup di
dalam keluarga, orang tua tidak membiasaakan anak-anak mereka untuk membaca
apalagi membelikan anak-anak mereka buku-buku bacaan yang cocok dengan usia
mereka. Membaca menjadi hal yang sepele dan tidak menarik hati generasi apalagi
menjadikan nya sebagai hoby. Hal ini nyata terjadi dalam kehidupan literasi
yang ada di Indonesia.
Di sisi lain
kualitas pendidikan yang masih minim pemerataan akan sarana dan prasarana tidak
merata. Masih terdapat anak-anak usia sekolah yang tidak lagi mengenyam
pendidikan, merka di sibukan dengan aktifitas yang tak wajar harus membantu
orang tua mencari nafkah guna makan dari hari ke hari. Kemiskinan yang mendera
mereka memunculkan suasana keterpaksaan yang acap kali terjadi, mereka tidak
lagi berpikir bagaimana membaca dan menulis yang mereka tau hanya bagiaman hari
ini bisa makan dan hari esok bisa bekerja lagi melanjutkan hidup mereka yang
kian terancam. Mereka seolah tersingkir dari pesatnya perkembangan tehnologi
yang tak mereka rasakan manfaatnya karena teknologi yang merubah dunia dan merubah
peradaaban tak merubah kehidupan mereka menjadi lebih baik. Hal ini menjadi
salah satu sebab terhambatnya gerakan
literasi pada jiwa mereka ini nyata dan tak bisa di pungkiri akan ketidak
selarasan yang kerap terjadi dan mendekap tak berhenti.
Keterbatasan
produksi buku dan penerbitan buku di Indonesia menjadi penyebab ketidak
berhasilan dalam mencapai tujuan gerakan literasi karena tak bisa kita berkata
bohong akan harga buku yang mahal, stock
buku yang terbatas. Hal yang sangat memprihatinkan adalah mahalnya biaya
produksi buku dari penerbit sementara royalty buku tersebut sangat minim.
Secara tak langsung hal ini membunuh profesi penulis dan pengarang dari
kreatifitas dan kegemaran nya dalam menulis buku-buku yang bernilai jual tinggi
namun tidak di hargai dengan kualitas yang di beri. Belum lagi peraturan dalam negeri yang mempersulit untuk
penerbitan buku yang kian marak di instanti instansi tertentu. Hal ini membuat
literasi di Indonesia jadi layu, mengantuk dan mati suri.
Melaksanakan Kurikulum
2013 merupakan salah satu upaya yang di lakukan oleh pemerintah mensiasati
kegiatan wajib literasi. Kegiatan ini
bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran dalam diri siswa guru dan semua orang
yang berpartisipasi dalam melaksanakan kurikulum tersebut akan pentingnya
membaca dan menulis. Gerakan literasi tersebut diantaranya adalah yang pertama adalah
memberikan keteladanan kepada siswa supaya siswa ikut tergugah hatinya saat
melihat gurunya rajin membaca dan semua personil yang ada di sekolah ikut
memberikan model yang benar akan kegemaran untuk membaca bukan hanya semboyan
saya. Gerakan literasi yang kedua melaksanakan jadwal wajib kunjung
perpustakaan. Siswa diberi kesempatan untuk belajar diperputakaan dengan
membaca buku-buku sebagai referensi akan tugas yang di berikan. Siswa diarahkan
untuk menulis hasil kerjanya dalam bentuk laporan melampirkan alasan dan sumber
yang mereka dapatkan. Siswa diminta untuk memaparkan hasil kerja mereka dengan
menyampaikan secara lisan dan di simak olaeh siswa yang lain. Setelah selesai
hasil kerja mereka ditempelkan di dinding kelas atau di madding sebagai
apresiasi atas kerja keras mereka hari ini. Hal ini dapat di lakukan
berulang-ulang agar kebiasan mereka membaca menjadi tersimulasi dan terjadwal
mengarah pada pembiasaan dini.
Gerakan lirerasi
yang ketiga bisa di lakukan pada siswa adalah memberikan
mereka tugas membaca diluar jam belajar sebelum pelajaran di mulai. Mereka di
minta untuk membaca kisah-kisah infiratif atau mendengar kisah insfiratif boleh
saat mereka berada di rumah atau di luar rumah bersama teman-teman mereka. Guru akan memulai pelajaran dengan meminta
siswa untuk mengulang kisah yang di bacanya di depan kelas sebagai ice breaking
beberapa saat sebelum pelajaran dimulai. Sebelumya orang tua di undang ke
sekolah untuk di berikan pengertian agar mendukung program literasi kepada
anak-anak mereka saat mereka berada di rumah. Orang tua mengarahkan wisata
mereka ke took-toko buku dan pusat literasi agar anak-anak akan termotivasi
untuk membaca dan membeli buku.
Gerakan literasi
yang keempat adalah posterisasi sekolah dengan membuat poster-poster yang memuat
himbauan untuk gemar membaca buku, membentangkan poster ke setiap sudut-sudut
sekolah agar dapar di baca oleh siap oaring yang lewat, memuat kata-kata
mutiara yang mengajak orang untuk rajin membaca denga sejuta manfaat yang akan
didapatkan.dengan harapan mengugah setiap hati yang membaca ajakan tersebut
nantinya.
Gerakan literasi
yang kelima membiasakan siswa untuk membuat pohon-pohon literasi sebagai hiasan
di ruang kelas, di taman-taman bersantai di sekitar sekolah dengan beraneka
ragam bentuk pohon-pohon yang menarik hati untuk di baca meski hanya berisi
kata kata singakt namun memuat makna yang mudah di ingat karena selau di baca
dan lihat setiap kali lewat.
Gerakan literasi
keenam membuat ruang-ruang yang tak terpakai sebagai tempat membaca di buat seindah
mungkin dengan beraneka ragam buku yang tersedia untuk menarik minat membaca
siswa saat istirahat dan mengisi waktu luang di sekolah. Saat menunggu waktu
sholat misalnya di siapkan sudut ruangan untuk menyediakan taman bacaan yang
akan membuat siswa selalu terbiasa dengan buku-buku bacaan yang ada. No Day without Reading ( tidak ada hari
tanpa membaca )
Gerakan literasi
ketujuh membuat madding literasi di setiap kelas setiap selesai pembelajaran
siswa bisa menempelkan hasilkarya mereka di madding literasi tersebut dengan
model yang mereka sepakati di kelas guru hanya mengarahkan seanjutnya
memberikan mereka kepercayaan untuk membuat seindah mungkin sesuai kreasi yang
mereka inginkan. Tanpa memaksa dengan model yang guru wajibkan.
Gerakan literasi
kedelapan membuat kata-kata motivasi
mengunakan alat alat ketemapilan dari bahan bekas yang bisa di pajang di
dinding-dinding kelas dengan kreasi yang indah san menarik sesuai yang siswa
inginkan. Ini dapat di alkukan di awal semester saat pelajaran keterampilan di
laksanakan.
Gerakan literasi
kesembilan adalah mengadakan lomba duta membaca melalui rekapitulasi hasil
kerja pengelola pustaka memilih bebrapa nama siswa yang menjadi duta membaca
karena keaktifan nya yang sellu berkunjung ke pustaka untuk membaca buku. Ini
dapat di lakukan agar siswa termotivasi untuk selalu membaca dan menjadikan
pustaka sebagai tempat rekreasi bersama teman-temannya.
Gerakan literasi
terakhir adalah lomba karya literasi antar kelas dengan lomba membuat mading, lomba membuat
pohon literasi, lomba kelas penuh nuansa literasi dengan tema yang memuat
kaidah dan hakikat literasi itu sendiri. Dengan gerakan literasi tersebut di
atas semoga mampu menginsfirasi antar generasi mencapai tujuan literasi
tersebut dalam menumbuh kembangkan budi pekerti peserta didik melalui
pembudidayaan ekosistem literasi sekolah yang di wujudkan dalam gerakan
literasi sekolah agar menajdi pembelajar sepanjang hayat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar