Pengikut

Selasa, 25 September 2018

ASMARA YANG TENGGELAM

Bagaimana rasanya memiliki istri namun tak pernah bisa bersenda gurau dengannya, tak bisa berkasih sayang, tak bisa menyapanya dengan kehangatan, ketika pulang kerumah tak pernah disambut dengan senyuman apalagi segelas kopi manis terhidang. Kesedihan memaksa hadir dalam melewati malam panjang. Pergantian musim terus bergulir namun tak jua ada kabar tentang istri yang terpenjara oleh keegoan dan kekejaman.
Kesalahan yang menjadi malapetaka sudah ditebus dengan penyerahan diri kepada sang pencipta. Demi istri tercinta pahitnya hidup diterima dengan lapang dada, meskipun harus menyimpan kerinduan yang merajalela, rasa Lelah yang memenjara. Dan kumpulan bait kata terbaik untuk menjawab ribuan pertanyaan dari gadis kecil yang beranjak remaja, ibuku di mana ayah? Apakah sudah tiada? Jika ada dimana dia ayah?. Curahan hati yang tak pernah tersampaikan.

Dia adalah gadis muda. Anak dari seorang ibu yang cerdas luar biasa, hebat dan penyayang. Namun dia tak pernah mengakui ibunya itu wanita hebat, kata ayahnya ibunya itu adalah wanita tercantik dan sangat baik hati. Itu hanya kata ayah dia tak pernah percaya akan apa yang di katakan ayahnya. Dia tak pernah melihat ada wanita cantik seumur hidupnya yang mengakuinya sebagai anak. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang ibunya meski hanya sebentar saja. Ayahnya bilang ibunya itu masih ada dan hanya pulang saat orang tertidur pulas.
“Lelucon macam apa ini ayah?. Aku sudah dewasa dan aku butuh ibu yang menemaniku saat aku butuh dirinya. Ada banyak hal yang tak bisa kuceritakan kepada ayah, ayah ibuku dimana?! Tolong katakan aku ingin bercerita padanya. Aku ingin dia ada di sini.”
“Nak ceritalah pada ayah, ayah akan menyampaikan pada ibumu nanti ketika dia pulang, ibumu bekerja di sebuah perusahaan yang sangat jauh, terkadang dia hanya bisa pulang saat kita semua tertidur pulas ibu biasanya meninggalkan uang untuk keperluan sekolahmu. Kemudian dia pergi lagi dengan kendaran milik perusahannya. Ibu sering menciummu saat kau terlelap, berhentilah meragukan tentang ibumu.”
“ayah jika ibuku tidak ada katakanlah sejujurnya, jangan ayah menyimpan rahasia itu seorang diri, karena aku sudah dewasa ayah?!.”
“Tentu saja tidak nak., ibumu masih ada. ketika dia pulang terkadang ayahpun sedang tertidur pulas. Namun ayah tau ibumu pulang dia selalu saja meletakkan lembaran uang itu di atas meja kamar.”
“baikla ayah , aku akan coba memahami, ayah bagimana dengan bulan puasa kali ini apakah ibu akan libur dan memberikan waktunya untuk kita?’’
“Nanti akan ayah sampaikan pada ibumu, ayo bersiaplah untuk ke sekolah hari sudah siang, jangan dipikirkan lagi tentang ibumu.”
Lelaki itu selalu berusaha menutupi kisah masa lalunya tentang perempuan cantik, luar biasa, pintar dan penyayang itu. Mereka awalnya saling jatuh cinta, saling mengasihi dan sepakat untuk menikah jika waktunya tiba, namun keadaan berubah cinta mereka berubah menjadi malapetaka, wanita cantik itu hamil sebelum menikah padahal mereka masih di bangku kuliah. Mereka sangat panik dan menyadari kesalahan yang dilakukanya akhirnya mereka memutuskan untuk menceritakan semua masalah mereka. Orang tua Maira sangat marah besar dan tak menerima akan hal tesebut, mereka sempat dinikahkan, dan selesai pernikahan itu, orang tua wanita itu memisahkan lelaki muda tersebut dengan anaknya. Sembilan bulan berlalu tentu saja bayi dalam kandungan Maira harus dilahirkan. Wanita itu tak bisa melakukan apa-apa hanya bisa mematuhi apa yang di inginkan orang tuanya.
Siang itu angin berhembut lembut, meskipun terik mentari membakar. Orang tua Maira menelpon suami anaknya, semata-mata hanya ingin menyerahkan bayi perempuan yang masih merah kepada lelaki itu. Lelaki itu tak bisa menolak, dia juga tak pernah tau bagaimana kabar istrinya yang sudah melahirkan bayinya. Lelaki muda itu tetap sabar dan tegar melewati semua. Lelaki itu merawat dan membesarkan bayi itu seorang diri penuh kasih sayang, meski hanya tinggal di pondok reot milik ibunya yang sudah meninggal. Bayi kecil itu sudah tumbuh dewasa dan selalu bertanya tentang ibunya. Teman-teman disekolahnya selalu saja mengolok-olok dirinya.
“Jika kau punya ibu, mana ibumu? Bawalah kesini untuk makan siang bersama kami setelah lomba masak besok ”
“Atau kamu katakana saja , kalo ibumu sudah mati, dan jangan bercerita bohong lagi tentang ibumu yang cantik, pintar luar biasa itu”
Gadis remaja itu berlari menuju rumah dan menceritakan kepada ayahnya apa yang selalu di alaminya. Dia menangis tersedu-sedu dibilik kamar milik ayahnya.
“Sudahlah Nak, jangan kau masukan kedalam hati apa yang mereka katakan, doakan saja ibumu yang sedang bekerja selalu sehat, nanti jika kamu sudah dewasa kamu akan mengerti mengapa ibu hanya pulang kerumah ketika semua orang tertidur.”
“Iya, ayah”
Lelaki itu terus berusaha menenangkan hati anaknya yang semakin-hari semakin tak terbentung rasa ingin bertemu dengan ibunya. Suatu malam lelaki itu didatangi oleh seorang lelaki tua yang mengaku dia adalah ayah dari istrinya yang hilang. Dia sangat terkejut dan tak percaya kemudian bertanya-tanya.
“Ada apa dengan Maira pak?, apakah dia sakit atau dia sudah….?, tidak kumohon pak aku rela melakukan apapun asal dia baik-baik saja, aku sudah merawat anak kami dengan baik, jangan bapak ragukan akan ketulusanku mencintainya? Jangan sakiti Maira pak?.” suami maira memohon sambil bersujud.
“Nak ikutlah denganku, kami sadar apa yang kami lakukan selama ini salah, kami hanya memikirkan status dan kekayaan semata, tidak pernah memikirkan perasaan orang lain, juga persaaan anakku sendiri, sejak kami memisahkan kalian, Maira tak pernah melakukan perlawanan, meskipun dia sering meminta untuk bisa menemuimu. namun kami selalu melarang, sampai dia selesai melahirkan, dia berharap bisa merawat anaknya namun kami memisahkan dia dengan anaknya, sekarang dia sangat tertekan dan tak lagi mengenali siapapun, padahal kami sudah membawanya kemana-mana untuk berobat.”
“apa?! Oh Mairaku! Maafkan aku Maira, pak! segera bawa aku menemuinya, sebentar pak aku harus menitipkan anakku dulu kepada tetangga karena dia hanya sendirian di rumah jika aku pergi.”
Mereka bergegas pergi menuju rumah sakit jiwa tempat Maira di rawat, Maira terlihat sangat kurus, tatapan matanya kosong, dia terbaring lemah dan tak berdaya. Tak ada yang bisa dilakukannya. 
“Izinkan aku membawanya pulang pak?, aku akan merawat Maira, ini pilihan terakhir pak, semoga Maira bisa pulih kembali,”
“Nak sungguh Mulia hatimu, siang ini bapak akan mengantar Maira kerumahmu, bapak akan mengurus semua keperluannya dulu, ibumu juga lagi sakit nak, dia ikut depresi karena bapak keras melarang mereka untuk bertemu denganmu, bapak minta maaf ya nak?!, bapak merasa orang yang paling bersalah akan masalah ini, bapak bukanlah orang tua yang bijaksana.” Lelaki tua itu berkata penuh penyesalan.
Langit mendung cuaca basah hujan baru saja berhenti, sore ini, Maira sudah berada di rumah reot milik lelaki itu, anak gadisnya terlihat sangat bahagia dengan bulir air mata, dia memeluk ibunya dengan erat, dia berulang-ulang mencium pipi ibunya, hari ini anak gadisnya tak lagi bertanya, karena semua pertanyaan terjawab. Mata Maira mulai bergerak sedikit demi sedikit, lelaki tua itu menangis penuh keharuan sambil memeluk istrinya yang duduk di kursi roda, sore itu mereka di pertemukan kembali setelah 17 tahun terpisah
Di sudut pintu rumah lelaki muda itu mematung. Lelaki muda ikut memendar rasa, menahan air yang jatuh dan membasahi bulu matanya, penyesalan muncul dan kembali membawanya ke suasana 17 tahun yang lalu saat dia tak kuasa menahan hasrat cintanya. Dia menahabiskan malam saat purnama, melupakan semua sekat-sekat norma yang harus dijaganya. Gejolak cintanya semakin tak terbendung dan membuatnya lupa. Dia menatap ke wajah cantik kekasihnya yang pasrah terbaring di atas pangkuannya. Mereka sembunyi dari kemarahan ayah Maira yang tak pernah setuju akan hubungan mereka. Malam itu mereka menghabiskan malam tanpa kata-kata. Mereka melewati semua kegelisahan dengan luapan cinta yang tak terbendung. Suara kodok bersahutan mengantar malam seakan ikut hanyut dalam suasana cinta yang semakin tak berarah. Mereka semakin hanyut dan terjatuh ke dasar cinta yang teramat dalam. Lelaki itu tersentak dari lamunan dan mendekat memegang tangan Maira.
“Maira, maafkan atas semua yang telah kulakukan, cintaku ini hanya menyiksamu, aku meredupkan sinar bola matamu yang penuh kilauan. Aku mematahkan sendi-sendi tulangmu, hingga dirimu tak bisa lagi bergerak selincah hari-hari itu. bahkan aku memotong urat-urat bahagiamu, ibu dan ayahmu ikut menderita karena kesalahan cintaku padamu.” Lelaki itu berujar seraya memeluk maria penuh cinta, dan penuh penyesalan.
“Sudahlah nak, semua ini ayah yang salah.” Ayah Maira berkata
“Ayah, ibu, aku benar-benar minta maaf, atas semua ini.” lelaki itu kembali berkata
Isak tangis dan penyesalan memecah suasana, mereka terbawa dalam suasana hati yang semakin mendera. satu-persatu merelakan semua yang telah terjadi. Mereka tak lagi menyimpan rasa dendam. Mereka saling introfeksi diri. Malam semakin hening suara rintik hujan semakin deras. Dalam kekalutan suasana, seberkas harapan muncul, Maira mengerakan tangannya sambil berkata: “ Maafkan diriku yang tersalah membawa cinta. Aku ikhlas menerima rasa sakit ini untuk menebus semua dosa.”
‘’Maira!!!,” semua serentak terperanjat.
Semua serentak mendekat dan memeluk erat tubuh kurus Maira, sesekali nafas Maira terlihat sesak, air matanya tak berhenti mengalir jatuh menetes membasahi sarung bantal berwarna coklat. Ayah Maira membelai lembut rambutnya, gadis cantik anak Maira tak pernah menjauh dari ibunya. Lelaki bertubuh kurus suami Maira penuh harap dan komat-kamit membaca doa. Ibunya Maira masih terkulai lemah duduk di kursi roda. Pergantian malam mengantarkan kegelisahan pada titik terendah. Maira tersenyum dan tidur abadi untuk selamanya.



9

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Statistik Blog

SILABUS MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

BERIKUT SILABUS MAPEL BAHASA INGGRIS