Santriku Penuh Makna
Guru super zaman now merupakan sosok yang paling di impikan oleh setiap santri di manapun mereka bersekolah, Guru yang mampu menggugah dan merubah santri, santri merasa nyaman dengan cara guru tersebut mengajar, santri merasa rindu jika guru tersebut tidak hadir memberikan pelajaran. Guru hebat zaman now tentu saja harus punya trik – trik ampuh menghadapi santri zaman now selain memiliki kecerdasan, guru tersebut juga harus mampu bekerjasama, memahami apa yang di butuhkan santri untuk mencapai tujuan proses belajar mengajar. Namun Kadang kala kita sebagai guru merasa bahwa kita yang paling pinter di kelas saat menyampaikan materi pelajaran. Santri sering diremehkan dan acapkali mengatakan pada santri “ kamu Bodoh”, “ kamu malas” dan sebagainya. Hal ini secara langsung membunuh rasa percaya diri santri, menghina santri, dan secara tak langsung menjadikan guru sebagai monster yang amat di takuti. Padahal setiap anak itu cerdas dan memiliki multi kecerdasan hanya saja kita gengsi belajar dari perasaan halus siswa yang ingin selalu dimengerti bukan selalu disalahkan dianggap sebagai tong kosong.
Saya masih ingat kisah di hari sabtu tanggal 27 November 2017, di Pondok Pesantren Nurul Islam Kampung Baru. Adalah Ahmad siswa kelas VIII MTs terlihat murung dengan tatapan kosong ke arah kantin Sekolah. Pagi itu dia mendapatkan khabar bahwa ibu kandung nya sedang di perjalanan seorang diri menuju pesantren Nurul Islam tempat nya bersekolah, dalam hitungan normal jarak tempuh menghabiskan waktu lima jam karena ibunya mengunakan yamaha sporty tua kendaraan satu-satu nya milik keluarganya saat ini.
Awalnya keluarga Ahmad kaya raya apapun kebutuhannya selalu saja diberikan oleh ibu dan ayahnya. Namun sejak ayah nya menjadi tersangka ikut melakukan tindak korupsi dan menjadi tahanan oleh pihak kejaksaan. Kemudian menjalani dua puluh dua kali persidangan selama sembilan bulan. kehidupan keluarganya merosot serba kekurangan. Bagaimana tidak selama Sembilan bulan ibunya sibuk mengurus persidangan ayahnya. Biaya setiap kali sidang menghabiskan banyak uang, sehingga satu persatu harta milik keluarganya terjual, waktu itu ibunya dalam keadaan hamil memasuki bulan ke enam. Setiap Pagi, siang dan sore ibunya mengantarkan makanan buat ayahnya di sel tahanan. sampai akhirnya ibu melahirkan. Ayahnya masih di dalam tahanan, masih menunggu proses sidang yang sering di tunda-tunda oleh pihak kejaksaan. Ibunya memang wanita hebat ketika hendak melahirkan dia mengendarai mobil sendiri menuju rumah bersalin padahal kondisinya dalam keadaan sakit karena mengalami kontraksi hebat dari dalam kandungan. Sesampai disana ibunya ditemani oleh bu bidan melahirkan normal dengan selamat. Usia bayi hampir tiga bulan ayahnya baru mendapatkan putusan sidang yang menyatakan ayah nya di vonis bebas tak bersalah oleh ibu hakim. Ibunya sangat bersyukur karena proses panjang dialami suaminya berakhir juga.
Sejak kejadian itu ayahnya tak lagi bekerja sebagai kontraktor karena ayahnya merasa pekerjaan itu tak lagi sesuai dengan pribadinya yang sekarang. Ayahnya membuka usaha kolam ikan dengan modal pinjaman dari bank BRI dan menjual mobil satu-satunya milik ibu. Sejak panen bulan pertama ayahnya kesulitan untuk memasyarkan ikan tersebut, sementara ikan harus di panen cepat supaya berat badan ikan tidak susut . Keberuntungan tidak berpihak pada keluarganya, ayahnya mengalami banyak musibah dan kegagalan. Orang-orang yang di percaya untuk menjual ikan ada yang melarikan diri dengan membawa uang hasil penjualan ikan tersebut, di tambah lagi dengan ikan yang mati setiap harinya. Pada akhirnya ayahnya hanya meninggalkan hutang yang harus di cicil setiap bulan ke bank BRI. Ayahnya berusaha mencari pekerjaan lain namun tak juga dapat, ibunya sekarang menjadi tulang punggung keluarga untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ibunya bekerja sebagai pedagang jilbab keliling. Penghasilan ibunya hanya pas- pasan untuk makan hari ke hari sementara kebutuhan yang lain banyak yang tidak terpenuhi. Sementara rumah yang menjadi agunan untuk bank hampir di sita oleh bank karena ayahnya tak kunjung dapat pekerjaan untuk mencicil hutang di bank BRI tersebut. Ayahnya hanya bisa meminjam uang lagi dari pihak lain untuk membayar cicilan tersebut sampai akhirnya hutang ayahnya menumpuk dimana-mana.
Ahmad adalah anak ke 2 dari 6 bersaudara, tepat pada jam 06.46 ibunya sampai di pondok pesantren tempat Ahmad Sekolah. Ibunya langsung menuju ruang kesantrian dan ibunya minta izin untuk sholat maghrib berjamaah dan setelah itu baru berbincang dengan ustad bagian kesantrian prihal permasalahan yang di alami anaknya. Sekitar 60 menit berlalu terlihat ibunya sangat terpukul dan berulang-ulang mengusap air mata yang jatuh di pipinya.
Ahmad anak yang pendiam susah diajak komunikasi semua ini terjadi karena beberapa faktor: sejak ayahnya memasukan nya ke pondok pesantren dia selalu di hadapkan dengan masalah:
1. Tidak bisa berbahasa Arab, menulis arab, dan membaca bahasa arab karena dia berasal dari Sekolah dasar umum.
2. Dia tidak begitu pandai membaca al-qur’an
3. Dia jarang mendapatkan uang belanja dari ayahnya
4. Uang sekolahnya menunggak hampir 6 juta
5. Pakaian yang dimilikinya serba kekurangan
Ahmad malam itu memakai baju jubah hitam pembelian ayahnya ketika pertama kali Ahmad diantar masuk ke pesantren. Baju itu terlihat memudar berwarna hitam abu-abu. Tertunduk malu dan sambil menagis dia berterus terang kepada semua orang yang ada di ruang kesantrian termasuk ibunya. Mengapa dia ikut memanjat ruang koperasi milik Sekolah pada saat semua orang tertidur.
Dia menyebut satu persatu orang yang bersamanya untuk memanjat dan mengambil makanan dan uang di dalam koperasi tersebut. “ maaf kan Ahmad bu semua ini Ahmad lakukan karena Ahmad udah merasa tidak betah lagi tinggal di pesantren ini. Selama ini Ahmad sudah berusaha menjadi pribadi yang baik. Ahmad tidak pernah meninggalkan sholat lima waktu, tidak pernah melewatkan setoran hapalan al-qu’an, tidak pernah meminta uang jajan jika ayah dan ibu tidak mengirim. Ahmad juga ikhlas bu memunggut , mencuci dan memakai pakaian bekas yang udah dibuang oleh pemiliknya dan dituduh mencuri pakaian mereka . Ahmad juga ikhlas bu selalu di sindir karena selama setahun tidak membayar uang spp. Ahmad juga ikhlas selalu di gunjing oleh dewan guru hanya menumpang makan di pesantren ini. Ahmad juga ikhlas bu setiap hari di ejek teman-teman karena tidak punya prestasi apa-apa. Namun Ahmad berusaha untuk selalu melaksanakan kewajiban Ahmad sebagai santri, Ahmad berusaha puasa setiap hari karena Ahmad sadar bu, Ahmad tidak berhak untuk memakan makanan disini karena belum membayar uang Sekolah hingga sekarang. Namun Ahmad akui ikut menumpang makan disisa-sisa makanan yang ada. Meski setiap hari hanya minum air untuk sahur dan makan bekas sisa untuk berbuka, Allah SWT selalu menjaga Ahmad bu Ahmad Alhamdulillah selalu sehat. Bu Ahmad sangat mengerti bagaimana susahnya ibu, ayah dan adik-adik berjuang untuk melanjutkan hidup. Dan betapa besarnya harapan ayah dan ibu supaya kami bisa menjadi pribadi yang bermanfaat buat orang lain kelak. Satu hal yang tak bisa Ahmad tahan bu, sambil terisak-isak memeluk ibunya, Ahmad tidak akan memaafkan siapun yang menghina ayah dan ibu karena kita miskin bu, hanya karena ibu dan ayah tidak bisa membayar uang Sekolah tepat waktu. “Ahmad sudah ikhlas harus berhenti Sekolah bu Ahmad akan membantu ibu berkerja untuk melunasi hutang-hutang kita di pondok ini “Maafkan Ahmad bu? “ Ahmad sengaja memanjat ruang koperasi itu dan mengambil uang tujuh puluh lima ribu ini supaya Ahmad bisa bersama ibu dan ayah lagi di kampung”. “Ini ustad uangnya saya kembalikan.”
Ibunya tidak lagi bisa berkata-kata, bapak guru bagian kesantrian juga tidak bisa berkata-kata dan sayapun ikut hanyut dalam lautan air mata. Betapa mulia hati anak ini, selama ini yang ku tahu hanya mengajar tampa harus banyak belajar, ditengah-tengah ketidaktahuanku aku menemukan guru yang amat luar biasa dia adalah Ahmad santri ku yang pendiam namun penuh makna. Ahmad adalah guru yang tak pernah menyalahkan ku dengan sabar ahmad membimbingku menjadi guru yang bijaksana guru yang memahami pribadi santrinya. Ahmad mengajari ku bagaimana menjadi guru yang bertanggung jawab, guru yang ikhlas dalam mengajar, guru yang selalu belajar sabar meski di caci dan di remehkan. Ahmad mengajari ku menjadi guru yang harus mengerti keterbatasan santrinya dan keterbatasan diriku sendiri. Ahmad mengajariku menjadi pribadi yang kuat dengan prinsip untuk membantu orang yang sangat disayangi dan dihormatinya. Ahmad mengajariku bagaimana menyampaikan kejujuran meskipun sangat sulit dan ahmad mengajari ku bagimana berbakti kepada orang tua meskipun tak memiliki apapun untuk diberikan. Ahmad mengajari kita untuk selalu menyerahkan urusanya kepada Allah SWT. Dari paparan singkat Ahmad secara langsung memberikan kita pelajaran yang sangat berharga, pelajaran yang tidak akan kita dapatkan dari buku manapun, Ahmad mengajarkan kita bagaimana menjadi pribadi yang luar biasa. Meski akhirnya harus berhenti Sekolah karena tak lagi sanggup membebani orang tuanya, membela ibu dan ayah nya agar tidak lagi di rendahkan dan di jadikan bahan gunjingan oleh siapun karena mereka hidup dalam kemiskinan. Ahmad adalah santri ku yang penuh makna, Terima kasih Ahmad.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar