Pengikut

Kamis, 22 Februari 2018

Tips Menulis & Publikasi Buku


Cara Mengirim Email Naskah ke Penerbit

Setelah naskah jadi dan siap diajukan ke penerbit berarti naskah buku kita sudah siap untuk dikirimkan ke Penerbit melalui email. Sebelum dikirim melalui email, pastikan nama file mudah dikenali Penerbit dengan identitas yang menunjukkan buku kita. Seandainya file sudah disimpan dengan nama tertentu, kita bisa menggantinya dengan nama file yang tepat. Contoh cara save as atau rename file naskah buku.
Paket Perbitan (Jika menghendaki paket penerbitan)_Judul Buku_Nama Penulis
Judul Buku_Nama Penulis

Naskah file disimpan dengan nama berikut.
- Paket Perbitan (Jika menghendaki paket penerbitan)_Judul Buku_Nama Penulis
- Judul Buku_Nama Penulis
Setelah itu dilanjutkan dengan mengirim email ke Penerbit. Subjek email harus ditulis sama dengan nama file yang mau dikirim. Di badan email bisa disertakan kalimat-kalimat yang menunjukkan bahwa kita mau menerbitkan buku.

Pastikan email terkirim. Bisa dicek di email terkirim data-data email terkirimnya. Jika ada di kotak masuk berarti ada balasan bahwa email tidak mas 

Lima Alasan Mengapa Naskah Belum Selesai-Selesai

Bapak ibu dahsyat yang sedang menulis naskah baik buku, artikel, cerpen, novel, atau yang menulis yang lain, bagaimana kabar tulisannya? Apakah sudah selesai atau sudah lama memulai menulis namun belum selesai-selesai.

Jika naskah tulisan belum selesai, segera cari tahu alasannya mengapa naskah belum selesai. Terkadang, ketika mengikuti diklat kepenulisan, semangat menulis membara sehingga langsung bisa memulai tulisan. Di tengah proses menulis terkadang kita merasa idenya sudah buntu, terkadang juga masih malas-malasan, terkadang juga terlalu sibuk dengan kegiatan sehari-hari yang menumpuk.

Berikut ini adalah alasan-alasan yang sering membuat naskah belum selesai-selesai.
1) Ide naskah digarap dengan asal
Ide naskah sebenarnya bisa ide apa saja, asal kita bisa menggarapnya dengan sudut pandang yang berbeda dari yang lain akan menjadikan tulisan kita menarik. Lain halnya jika kita menuliskan ide itu asal saja tanpa mencari referensi tambahan sehingga kita akan merasa tulisan tersebut terasa garing. Pada akhirnya, kita merasa malas untuk melanjutkan menulis. Jika menulis cerita/cerpen/novel, pengetahuan tentang latar tempat yang kita pakai, gaya hidup, dan yang berhubungan dengan detail-detail tokoh sangat penting dipahami. Kita bisa mencari berbagai referensi yang bisa memperluas wawasan kita dan menambahkannya untuk mempercantik tulisan.

2) Perencanaan berupa kerangka tulisan (outline) kurang bagus
Sebelum menulis baik fiksi atau nonfiksi, kita harus menyiapkan kerangka tulisan (outline). Jika membuat novel tentukan dulu nama-nama tokoh, watak tokoh, perawakan tokoh, ciri khas tokoh yang menarik, latar tempat, dan detail-detail penunjang cerita. Setelah itu buat kerangka berupa alur cerita inti masing-masing bab. Dengan begitu, kita bisa menulis cerita meski dengan urutan bab yang acak sesuai dengan ide yang muncul duluan atau yang penting. Seandainya ada yang perlu diubah kerangka babnya itu tidak akan terlalu melenceng jauh dari target awal tulisan kita.
Jika menulis nonfiksi, tentukan dulu tulisan kita itu runtut perbabnya atau berisi kumpulan artikel yang tidak harus runtut. Buat kerangka perbab dan subbabnya. Lebih baik lagi jika ada gambaran singkat isi perbabnya sehingga memudahkan kita menyusun tulisan meski tertunda oleh tugas yang banyak.

3) Kurang fokus menulis naskah
Kunci sukses merampungkan tulisan adalah fokus. Jika kita tidak fokus pada tulisan tersebut tentu akan lama selesainya. Baru menulis beberapa halaman, kita sudah ingin menulis yang lain sehingga tulisan awal belum bisa terselesaikan. Memang sih, jika muncul ide baru yang lebih menarik dan berputar-putar terus di kepala, lebih baik langsung eksekusi dengan menuliskannya. Jangan sampai ide yang datang tadi hilang begitu saja. Setelah itu segera dilanjutkan menulis tulisan awal.

4) Tidak menentukan deadline
Kita harus memberikan batas waktu atau tenggang waktu kapan naskah tulisan kita harus selesai. Menulis naskah sendiri berbeda dengan menulis untuk diikut sertakan lomba atau event-event tertentu yang ada batas waktu atau deadline. Kita sendiri yang harus menentukan target. Jika sehari targetnya 5 halaman berarti kita bisa memberi deadline untuk naskah kita selama 20 – 30 hari. Misalnya dengan target 100 halaman, perhari bisa menyelesaikan 5 halaman maka dalam 20 hari naskah kita bisa selesai dan yang 10 hari bisa digunakan untuk menyusun naskah utuh dan mengeditnya. Berarti bisa kan menulis buku dalam 30 hari?

5) Menulis sambil mengedit
Menulis sambil mengedit akan menghambat terselesaikannya naskah. Mengedit naskah ada waktunya tersendiri yaitu ketika naskah sudah selesai. Baca ulang naskah yang sudah selesai ditulis sambil mengeditnya, bukan menulis sambil mengedit naskah

Tiga Trik Memikat Calon Pembaca

Penting bagi kita mengetahui cara bagaimana memikat calon pembaca sehingga tertarik untuk membeli dan membaca buku kita. Harapannya tentu kita ingin buku yang ditulis bisa laris manis terjual hingga best seller. Kebahagiaan tersendiri jika banyak yang berminat terhadap buku kita di samping tambahan income yang lumayan.

Berikut ini saya sampaikan Tiga Trik Memikat Calon Pembaca, di antaranya:  
1) Buat Judul yang Menarik
Calon pembaca akan tertarik untuk membeli dan membaca buku kita melalui judul yang menarik. Melalui judul, pembaca tertarik dan penasaran untuk mengetahui isi dari buku itu. Oleh karena itu, penulis perlu tahu bagaimana membuat judul yang menarik.
Menentukan judul itu sangat penting. Oleh karena itu, kita harus belajar bagaimana membuat judul yang menarik dan menjual.  
Judul merupakan gambaran singkat dari isi buku. Pembuatan judul harus menarik, unik, mencerminkan kebaruan, berguna, dan menantang. Dengan begitu pembaca akan terpikat untuk membaca isi buku. Namun jangan sampai melupakan relevansi judul dengan isi buku.
Judul lebih baik ditulis secara singkat, padat, dan jelas. Sebaiknya judul tidak lebih dari lima kata dan tidak boleh dalam bentuk kalimat atau frasa yang panjang.

2) Tampilan Cover yang Menarik
Cover yang menarik sangat membantu untuk memikat calon pembaca. Tampilan cover perlu dukungan warna, varian huruf/font, serta gambar. Gambar, warna, dan tulisan dusahakan serasi dan memiliki nilai estetika sehingga dari covernya saja, calon pembaca sudah dibuat jatuh cinta.
Sebagai penulis sebenarnya tidak harus pandai membuat cover. Kita bisa mencari jasa pembuat desain cover atau langsung ke penerbit. Penerbitan juga menyediakan jasa pembuatan cover. Kita cukup memberikan gambaran konsep sampul yang kita inginkan atau kita serahkan sepenuhnya pada Penerbit.

3) Percantik Tampilan Sampul Belakang
Setelah calon pembaca melihat judul dan sampul depan, pembaca akan berusaha mencari tahu tentang isi buku. Yang pertama dilakukan biasanya melihat halaman sampul belakang. Oleh karena itu buat secantik mungkin tampilan sampul belakang. Maksud saya di sini penulis bisa membuat sinopsis yang membuat pembaca penasaran. Hal yang bisa kita lakukan antara lain dengan membuat penggalan dialog, quote dari buku yang dibuat, mencantumkan endorsement, atau komentar-komentar dari tokoh-tokoh tertentu.

Mudah-mudahan dari ketiga hal yang kita tonjolkan di atas mampu menarik minat calon pembaca sehingga buku yang kita tulis banyak diminati dan laris teljual.

Trik Jitu Edit Naskah

Apapun naskah yang kita tulis, jika telah selesai harus kita baca ulang dan diedit dari segi penulisan kata, ejaan, kalimat, tanda baca, serta pilihan kata yang tepat. Begitu pula dengan naskah buku yang ingin kita terbitkan.
Kegiatan mengedit naskah sendiri popular dengan nama self editing. Sebelum naskah kita kirim ke penerbit, kita usahakan untuk mengeditnya sendiri. Jika belum bisa mengedit naskah sendiri, penerbit juga menyediakan paket penerbitan sekalian editing di penerbit indie.

Proses editing ini sangat penting karena selalu ada kemungkinan naskah tersebut terdapat kesalahan-kesalahan. Kesalahan yang terjadi bisa karena ketidaksengajaan atau juga karena ketidaktahuan penulis. Seandainya karena ketidaksengajaan, ketika mengedit pasti akan segera mengetahui bahwa itu salah. Jika karena ketidaktahuan, kesalahan dapat terjadi terus menerus. 
Oleh karena itu, sebagai penulis, kita harus belajar bagaimana mengedit naskah. Paling tidak naskah yang kita buat sudah rapi dan sudah sesuai dengan Ejaan Bahasa Indonesia. Dengan begitu, saat naskah kita sudah diterima penerbit, editor akan mempertimbangkan buku kita layak terbit atau tidak setelah melalui seleksi awal yaitu tulisan yang sudah rapi dan tidak ada kesalahan ejaan dan tanda baca. Jika sudah tidak ada kesalahan penulisan kata, kalimat, dan ejaan, maka editor akan memeriksa isi naskah tersebut.

Edit Naskah
Sebelum mengedit naskah, perlu dipahami bahwa ada beberapa kesalahan yang sering terjadi baik itu kita sengaja atau yang tidak. 
Kesalahan yang sering terjadi antara lain:
1) Penggunaan Spasi
Kesalahan sepele terkadang menyebabkan naskah tidak indah untuk dinikmati, misalnya penggunaan spasi yang tidak pada tempatnya dan spasi yang lebih dari satu ketukan. Sebenarnya spasi itu cukup satu ketukan, jika berlebih terlihat jarak antar kata menjadi tidak sama. Kesalahan yang sering terjadi dalam pemanfaatan spasi yaitu diberikan sebelum tanda baca koma, tanda titik, tanda seru, dan tanda tanya. Itu berarti kita telah membuat kesalahan dan harus segera diedit. 
Penggunaan spasi yang benar yaitu:
a) Spasi digunakan untuk memisahkan satu kata dengan kata berikutnya
Contoh: kaki bukit, segera berangkat, aku belajar menulis, dan lain-lain.
b) Spasi digunakan setelah tanda baca titik, koma, seru, dan tanya. Sebelum tanda baca tersebut tidak memerlukan spasi.
Contoh: 
Saya membeli buku , pensil , penggaris , dan penghapus . (Salah)
Saya membeli buku,pensil,penggaris,dan penghapus. (Salah)
Saya membeli buku, pensil, penggaris, dan penghapus. (Benar)
Spasi tidak digunakan sesudah tanda kutip dan tanda kurung
Contoh: 
Ida bertanya, " Sedang apa Kamu di sini? " (Salah)
 Ida bertanya, "Sedang apa Kamu di sini?" (Benar)
Ponsel cerdas (smartphone) (benar)
Ponsel cerdas ( smartphone ) (salah)

Edit Naskah

Sebelum mengedit naskah, perlu dipahami bahwa ada beberapa kesalahan yang sering terjadi baik itu kita sengaja atau yang tidak. 
Kesalahan yang sering terjadi antara lain:
1) Penggunaan Spasi
Kesalahan sepele terkadang menyebabkan naskah tidak indah untuk dinikmati, misalnya penggunaan spasi yang tidak pada tempatnya dan spasi yang lebih dari satu ketukan. Sebenarnya spasi itu cukup satu ketukan, jika berlebih terlihat jarak antar kata menjadi tidak sama. Kesalahan yang sering terjadi dalam pemanfaatan spasi yaitu diberikan sebelum tanda baca koma, tanda titik, tanda seru, dan tanda tanya. Itu berarti kita telah membuat kesalahan dan harus segera diedit. 
Penggunaan spasi yang benar yaitu:
a) Spasi digunakan untuk memisahkan satu kata dengan kata berikutnya
Contoh: kaki bukit, segera berangkat, aku belajar menulis, dan lain-lain.
b) Spasi digunakan setelah tanda baca titik, koma, seru, dan tanya. Sebelum tanda baca tersebut tidak memerlukan spasi.
Contoh: 
Saya membeli buku , pensil , penggaris , dan penghapus . (Salah)
Saya membeli buku,pensil,penggaris,dan penghapus. (Salah)
Saya membeli buku, pensil, penggaris, dan penghapus. (Benar)
c) Spasi tidak digunakan sesudah tanda kutip dan tanda kurung
Contoh: 
Ida bertanya, " Sedang apa Kamu di sini? " (Salah)
 Ida bertanya, "Sedang apa Kamu di sini?" (Benar)
Ponsel cerdas (smartphone) (benar)
Ponsel cerdas ( smartphone ) (salah)

2) Penggunaan Huruf Kapital
Penulisan huruf kapital juga harus diperhatikan. Penulis harus memiliki pengetahuan tentang penggunaan huruf kapital yang benar. Karena jika penulisan huruf kapital saja salah bagaimana dengan penulisan yang lain.
Contoh:
Dunia mereka menjadi seluas interface Sebuah gadget. (salah)
Kata Sebuah ditulis kapital seharusnya menggunakan huruf kecil.
Dunia mereka menjadi seluas interface sebuah gadget. (benar)

3) Penggunaan Kata Depan di 
Penulisan yang juga sering salah terdapat pada penulisan kata depan di. Penulisan kata depan harusnya dipisah bukan disambung. 
Contoh kata depan: di depan, di belakang, di sekolah, di rumah, di dada, di punggung, di dalam, di antara, dan lain-lain.

4) Penggunaan Kata Sambung di-
Penulisan imbuhan di- harus disambung dengan kata yang diikuti.
Contoh kata berimbuhan di: diberi, diajak, diatur, dimakan, diajukan
Untuk lebih memahami bahwa itu kata berimbuhan di, maka kita bisa mengubah kata kerja pasif tadi menjadi kata kerja aktif. 
diberi ( memberi)
diajak ( mengajak)
diatur ( mengatur)
dimakan ( memakan)
diajukan ( mengajukan)
Dengan demikian, akhirnya kita jadi tahu mana yang termasuk kata berimbuhan di- sehingga tidak lagi salah dalam penulisannya.

5) Penggunaan Kata Berimbuhan MeN-, Me-kan, atau Me-i
Konsonan k, p, t, s akan luluh jika mendapat imbuhan meN-, me-kan, atau me-i. Misalnya: mengeluarkan, menguliti, memukul, menyambal, menyayur, mengaji, menitipkan, menyapu, dan-lain-lain.
Awalan meN- menjadi men- kalau dirangkai dengan kata yang diawali huruf d, c, j, misalnya mendapat, mencuci, menjaring. Awalan meN- menjadi meny- jika dirangkai dengan kata yang diawali huruf s, misalnya menyeluruh. Awalan meN- menjadi mem- jika dirangkaikan dengan kata yang diawali huruf b, misalnya membeku. 

Contoh kesalahan yang sering terjadi.
MeN+ubah
Kamu harus merubahnya menjadi lebih baik.
Kamu harus mengubahnya menjadi lebih baik.
Kalimat tersebut mungkin sering kita jumpai. Baik kalimat pertama atau kalimat kedua. Imbuhan meN- pada kata merubah dan mengubah. Kira-kira mana yang baku?
Kata dasar ubah mendapat imbuhan meN-, meN berubah menjadi meng- karena bertemu vokal sehingga menjadi mengubah. 
Perhatikan kata bandingan yang kata dasarnya diawali vokal.
meN- + ukur = mengukur 
meN- + ajar = mengajar
meN- + ejek = mengejek
meN- + usap = mengusap
meN- + ekor = mengekor
meN- + eja = mengeja
 Berdasarkan aturan bahwa meN- jika dilekatkan dengan kata yang diawali vocal maka meN- berubah menjadi meng- maka yang baku adalah mengubah bukan merubah. Mungkin mereka yang menulis kata merubah terikat dengan kata berubah sehingga dalam anggapannya yang benar merubah padahal justru salah.
 Berdasarkan penjelasan tersebut berarti kalimat yang baku adalah: Kamu harus mengubahnya menjadi lebih baik.

MeN-+contek
Belajarlah yang rajin jangan hanya menyontek hasil jawaban teman!
Belajarlah yang rajin jangan hanya mencontek hasil jawaban teman!
Kedua kalimat tersebut serupa namun tidak sama. Kira-kira mana yang baku? Yang menggunakan kata menyontek atau mencontek?
Awalan me-N menjadi men- kalau dirangkai dengan kata yang diawali huruf d, c, j, misalnya mendapat, mencuci, menjaring. Mari kita perhatikan contoh kata lain.
meN- + cibir = mencibir
meN- + cabut = mencabut
meN- + cari = mencari
meN- + cubit = mencubit
meN- + coba = mencoba
 Nah cukup jelas bukan bahwa yang benar dan baku adalah kata mencontek. Berarti kalimat yang baku ada pada kalimat kedua: Belajarlah yang rajin jangan hanya mencontek hasil jawaban teman!

6) Penggunaan Imbuhan Dalam Gabungan Kata
Penggunaan imbuhan dalam gabungan kata masih sering terjadi kesalahan. Jika imbuhan hanya di awalan atau di akhiran saja maka penulisan gabungan kata tadi tetap dipisah. Namun jika gabungan kata tadi mendapat imbuhan awalan dan akhiran maka penulisannya digabung. 
Contoh: bertanda tangan, tercerai berai, dialihbahasakan, menandatangani, menitikberatkan.

7) Penggunaan Tanda Baca Koma
 Kesalahan yang sering terjadi yang harus jadi perhatiaan adalah penggunaan tanda koma yang tidak pada tempatnya, misalnya, kalimat yang panjang lebar namun sebenarnya jika diamati terdiri dari beberapa kalimat. Hanya karena menggunakan tanda koma bukan tanda titik akhirnya kalimat itu terkesan panjang dan dianggap satu kalimat. Padahal seharusnya tanda itu diwakili oleh tanda titik karena sudah menjadi sebuah kalimat yang utuh. Oleh karena itu, di sinilah pentingnya belajar tentang kalimat, penggunaan tanda koma, dan penggunaan tanda titik.

8) Salah Ketik
Salah ketik merupakan hal yang bisa saja terjadi. Apalagi kita masih belum hafal letak huruf di keyboard. Kesalahan juga bisa terjadi karena sistem di komputer yang otomatis mengubah kata-kata tertentu sehingga tidak sesuai dengan yang kita ketikkan. Kesalahan ini bisa segera diatasi dengan mengubahnya langsung setelah satu kata berikutnya diketikkan untuk menghindari banyak kesalahan atau dibiarkan dulu baru diedit belakangan.

9) Salah Menulis Istilah atau Kata Asing
Mungkin terkadang kita tidak paham cara penulisan beberapa istilah dan kata-kata dari bahasa asing. Sangat disayangkan jika tulisan kita bagus namun penggunaan kata-kata istilah dan bahasa asing masih terdapat kesalahan. Jika saat mengedit masih merasa ragu benar atau tidaknya, kita bisa searching di google bagaimana penulisan yang tepat atau melihatnya di kamus.

Dengan melakukan self editing, tulisan kita lebih rapi dan editor penerbit akan lebih cepat merespons tulisan tersebut. Mungkin bagi pemula hal ini terkadang masih membuat bingung. Namun dengan semakin sering membaca dan menulis, kita akan semakin terlatih menulis dengan baik dan benar.

Ciri Naskah Siap Terbit

Naskah buku disebut siap terbit jika naskah sudah selesai ditulis dari bab awal sampai bab akhir dilengkapi kata pengantar, daftar isi, daftar pustaka, daftar istilah (jika perlu), daftar indeks (bila perlu), ucapan terima kasih (jika perlu), biodata, dan lampiran (bila perlu). Naskah harus sudah diedit sehingga buku siap diajukan ke penerbit.

Hal yang harus dilengkapi sebelum naskah dikirim ke penerbit antara lain: 
1) Membuat kata pengantar
Isinya mengantarkan pembaca mengetahui garis besar isi buku dan manfaat membaca buku tersebut.
2) Membuat daftar isi sebagai kerangka buku
Daftar isi memudahkan pembaca mendapatkan gambaran isi buku secara keseluruhan.
3) Mencantumkan daftar pustaka/referensi
Pada saat menyusun buku, kita membutuhkan berbagai sumber bacaan untuk dijadikan rujukan. Sumber bacaan tersebut harus ditulis dalam daftar pustaka.
4) Mencantumkan indeks (bila perlu)
Indeks penting dicantumkan jika buku yang dibuat sangat tebal sehingga memudahkan pembaca mencari point-point penting.
5) Menambahkan daftar istilah (bila perlu)
Bila diperlukan, penulis bisa menambahkan daftar istilah yang tidak bisa dialihbahasakan ke bahasa Indonesia.
6) Membuat ucapan terima kasih (bila perlu)
Ucapan terima kasih tidak harus ada. Ucapan terima kasih dibuat jika dalam penulisan ini didampingi, diberi testimoni, atau memerlukan proses yang melibatkan berbagai pihak. Singkat, praktis dan tidak lebay.
7) Menulis biodata
Biodata penulis sangat penting dengan disertai foto terbaru. Hal-hal yang ditulis antara lain nama, pendidikan, buku yang sudah ditulis, dan alamat kontak. 
8) Lampiran
Bila ada hal-hal yang tidak bisa dimuat dalam daftar isi bahasan buku, maka bisa dicantumkan dalam lampiran. Misalnya peta wilayah, hasil penelitian, surat keputusan, dan lain-lain.

Manfaat Edit Naskah

Kemampuan edit naskah akan sangat bermanfaat bagi kita terutama penulis. Dengan menghasilkan tulisan yang sudah bagus dari segi penyajian, ejaan, tanda baca, dan pilihan kata, kita akan lebih percaya diri mengirimkan naskah buku kita ke penerbit yang kita kehendaki baik penerbit mayor maupun penerbit indie. 
Penerbit akan lebih mempertimbangkan untuk menerima naskah kita yang bahasanya menggunakan kalimat yang efektif dan enak dibaca, terlebih lagi sudah bagus penggunaan Ejaan Bahasa Indonesiannya.

 Tips Menulis Daftar Pustaka

Daftar pustaka merupakan bagian yang tidak boleh dilewatkan jika tulisan kita masih mengambil beberapa referensi yang dijadikan acuan dalam tulisan. Terkadang kita mengutip sebagian tulisan di buku yang kita jadikan acuan dan terkadang kita mengambil intisari dari beberapa bagian buku referensi tersebut. Hal inilah yang mengharuskan kita menuliskannya dalam daftar pustaka.

Penulisan Rujukan dari Buku
Salah satu bahan rujukan adalah berupa buku bacaan. Hal-hal yang perlu ditulis dalam daftar pustaka dari buku bacaan yaitu:
1. Nama pengarang (Na)
2. Tahun terbit (Ta)
3. Judul buku (Ju)
3. Tempat penerbitan (Tem)
4. Penerbit (Pe)
Untuk memudahkan menghafal menulis urutan penulisan daftar pustaka yaitu dengan singkatan NaTaJuTemPe. Susunan daftar pustaka terdiri dari: Nama, tahun, judul, tempat, penerbit.
Contoh: Moeliono, Anton, 1984. Santun Bahasa. Jakarta: PN Balai Pustaka.

Nama penulis ditulis nama belakang dahulu baru nama depan jika terdiri dari dua kata atau lebih. Pemisahnya menggunakan tanda koma, sedangkan pemisah antara bagian-bagian daftar pustaka dengan tanda titik. Setelah tempat menggunakan tanda titik dua baru diikuti nama penerbit. Penulisan judul buku dengan huruf miring atau diberi garis bawah dan tidak memerlukan tanda petik.

Buku yang ditulis oleh dua atau tiga orang, penulisannya adalah untuk nama pengarang pertama tetap nama belakang dulu kemudian tanda koma diikuti nama pengarang keda dan ketiga. Nama pengarang kedua dan ketiga penulisannya tetap sesuai nama aslinya tidak perlu nama belakang dulu. Jika pengarangnya lebih dari tiga penulis ada banyak maka penulisnya cukup ditulis nama pertama kemudian diikuti tanda koma dan kata-kata et.al atau dkk.

Contoh:
Soekamto, Toeti dan Udin Saripuddin Winataputra. 1996. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Pusat Antar Universitas-Depdikbud.
Annisa, Nurus Samawati, Endang Sulastri, dan Ida Hamidah. 2016. Siaga Bahasa Indonesia SMP/MTs Kurikulum 2013. Banten: Sinar Gramedia
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aks

Bahan bacaan yang berupa terjemahan, penulisannya agak sedikit berbeda. Penulisannya yaitu nama penulis asli ditulis paling depan, diikuti tahun penerbitan, judul, nama penerjemah, tahun terjemahan, nama tempat penerbitan dan nama penerbit terjemahan. Apabila tahun penerbitan buku asli tidak dicantumkan, ditulis dengan kata tanpa tahun.
Contoh:
Alsanea, Raja. 2005. The Girs of Riyadh Kisah Email Empat Gadis yang Menghebohkan Saudi Arabia. Diterjemahkan oleh Syahid Widi Nugroho. 2007. Jakarta: PT. Cahaya Insan Suci

Daftar bacaan yang kita gunakan sebagai rujukan biasanya lebih dari satu untuk memperkaya wawasan dan sudut pandang. Untuk itu, cara penyusunan daftar pustaka urut berdasarkan alfabetis.

Contoh:
Alamsyah, Isa. 2015. Cetakan Ketiga. 101 Dosa Penulis Pemula. Depok: Asma Nadia Publishing House
Annisa, Nurus Samawati, Endang Sulastri, dan Ida Hamidah. 2016. Siaga Bahasa Indonesia SMP/MTs Kurikulum 2013. Banten: Sinar Gramedia
Arikunto, Suharsimi, dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta: Bumi Aksara
Aqib, Zainal. 2013. Menjadi Penulis Buku Profesional. Pedoman dan Aplikasi Karya Tulis Ilmiah. Bandung: CV. Yrama Widya
Badudu, J.S.1994. Pintar Berbahasa Indonesia Jilid I. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan
Moeliono, Anton. 1984. Santun Bahasa. Jakarta: PN Balai Pustaka.
Soekamto, Toeti dan Udin Saripuddin Winataputra. 1996. Teori Belajar dan Model-Model Pembelajaran. Jakarta: Pusat Antar Universitas-Depdikbud.
Tojiby, Fikriyah Achmad. 2000. Teknik Menulis Karya Tulis. Bandung: Al Fikri

Penulisan Rujukan dari Internet
 Internet sering kita akses sebagai salah satu alternatif bahan bacaan. Sebaiknya dalam mencari rujukan di internet itu kita harus pandai-pandai memilah bahwa tulisannya bisa dipercaya dan dipertanggungjawabkan. Jika ada nama penulis maka nama penulis ditulis dengan nama belakang dulu, tahun, judul, keterangan (online), alamat rujukan (link), diakses tanggal berapa. Jika tidak disebutkan penulisnya cukup ditulis linknya dan diakses tanggal berapa.
Contoh:
Ihsanudin. 2017. Jokowi: Tak Perlu Risau Soal “Full Day School”. http://nasional.kompas.com/read/2017/08/14/13380931/jokowi--tak-perlu-risau-soal-full-day-school-. Diakses tanggal 07 Januari 2017.

Demikian cara penulisan daftar pustaka yang bisa dijadikan sebagai pedoman. Dengan menulis daftar pustaka kita akan terhindar dari istilah plagiat.

Sukses Menerbitkan Buku

Sukses menerbitkan buku tentulah dambaan setiap penulis. Disebut sukses menerbitkan buku jika tulisan itu sudah bisa diterima penerbit, dicetak, dan bukunya laku terjual. Untuk itu kita harus mengetahui tips-tips bagaimana kita bisa sukses dalam menerbitkan buku.

Berikut ini beberapa tips-tips sukses menerbitkan buku
1) Menyiapkan Naskah Buku Siap Terbit
Naskah buku disebut siap terbit itu jika kita sudah menyusunnya dalam satu file secara berurutan. Urutan yang benar itu sesuai dengan daftar isi yang sudah kita buat. Urutannya yaitu: 1) kata pengantar, 2) daftar isi, 3) judul bab 1-bab terakhir, 4) daftar pustaka, 5) daftar indeks (jika ada), 6) daftar istilah, 7) halaman terima kasih (jika ada), 8) biodata penulis, 9) lampiran (jika ada). Maksud satu file itu bukan satu folder ya. Satu file itu ya dalam satu judul word yang disiapkan sudah ada kurang lebih 9 hal itu semua secara berurutan. Jika mengirimnya masih terpisah-pisah dalam judul-judul yang berbeda, bisa dipastikan bakal ditolak langsung oleh penerbit.

Setelah naskah sudah ada dalam satu file word, lanjutkan dengan melakukan self editing atau jika belum yakin untuk melakukannya serahkan saja ke editor. Sambil melakukan editing, aturlah page layout, huruf yang dipakai, dan paragrafnya. Terkadang penerbit sudah memberikan aturan itu dan perhatikanlah. Jika tidak ada ketentuan, bisa menggunakan aturan ini: ukuran kertas A4, menggunakan huruf Times New Roman, ukuran 12 point, jarak 1,5 spasi, margin 3 3 3 3.

Ketika menyimpan file jangan lupa menyimpannya dengan nama judul buku yang kita tulis dan nama kita. Jika belum, silakan diubah nama filenya terlebih dahulu. Contoh: Sukses Menulis Buku Untuk Guru_Nurus Samawati Annisa. Terkadang penerbit sudah memberitahukan cara memberi nama file sesuai paket penerbitan yang kita minta.

2) Mengenal Komponen Industri Buku
Sebelum menerbitkan buku, alangkah baiknya jika kita mengenal dulu komponen-komponen yang ada dalam industri buku. Komponen tersebut adalah pengarang, penerbit, percetakan, pedagang buku, perpustakaan, buku, dan pembacanya.

Pengarang merupakan unsur penting dalam industri buku karena tanpa pengarang (penulis), mustahil buku bisa diterbitkan. Penerbit bisa menerbitkan buku karena pengarang menciptakan apa yang akan dikomunikasikan kepada pembaca lewat tulisannya.

Pengarang (penulis) juga membutuhkan penerbit untuk bisa menggandakan dan menyebarluaskan tulisannya. Kerjasama ini tentu akan saling menguntungkan kedua belah pihak. Penerbit memiliki tim untuk mengelola proses penerbitan antara lain editor, produksi, dan distribusi. Dengan adanya tim tersebut, proses penerbitan dapat berjalan dengan lancar.

Penerbit akan selalu berhubungan dengan percetakan untuk mencetak buku secara fisik. Penerbit kebanyakan memiliki percetakan sendiri sehingga masih dalam sebuah naungan yang sama nama penerbit dan percetakannya. Namun banyak juga penerbit yang tidak memiliki percetakan dan bekerja sama dengan percetakan-percetakan yang ada.

Untuk menyebarluaskan buku yang sudah diterbitkan, diperlukan adanya pedagang buku. Pedagang buku itu antara lain toko buku, pusat penjualan buku, reseller buku, dan toko buku online. Melalui pedagang buku inilah, buku-buku yang sudah dicetak bisa sampai kepada tangan pembaca.

Perpustakaan merupakan tempat untuk menyebarluaskan buku kepada pembaca bukan untuk komersial namun hanya untuk dibaca dan dipinjamkan. Untuk menyediakan berbagai macam buku, perpustakaan mempunyai daya beli yang cukup tinggi.

Buku merupakan bentuk fisik dari tulisan pengarang (penulis) sehingga bisa sampai ke tangan pembaca. Seiring perkembangan zaman, bentuk buku dibuat sedemikian menarik baik dari sampul, gambar, ilustrasi dan warna sehingga mampu menarik pembaca untuk membeli dan membacanya.

3) Mengirimkan Naskah Buku ke Penerbit
Sebagai pemula, jika tulisannya ingin segera diterbitkan saran saya melakukan self publishing. Self publishing itu menerbitkan buku dengan biaya sendiri. Penerbit yang menerima self publishing biasanya disebut sebagai penerbit indie.  Penerbit indie mencetak buku sesuai pesanan penulis. Penerbit indie biasanya menawarkan beberapa paket penerbitan dengan berbagai fasilitas. Pilihlah paket berdasarkan kebutuhan penerbitan dengan mempertimbangkan fasilitas yang ditawarkan.

Berbeda dengan penerbit mayor, mereka menerbitkan buku dengan cara membeli lepas tulisan kita atau dengan perjanjian berbagi royalty keuntungan dengan penulis. Dan untuk dapat tembus ke penerbit mayor memang ada seleksi ketat sesuai kriteria mereka. Dan kita harus bersabar menunggu tulisan kita diterima.

Naskah buku yang sudah jadi kita kirimkan ke penerbit melalui email dalam bentuk softcopy. Softcopy tersebut harus sudah dipastikan format page layoutnya sudah sesuai standar yang sering dipakai seperti yang sudah saya sebutkan di bagian sebelumnya kecuali jika penerbit mensyaratkan ukuran tertentu. Pastikan judul file dan subjek email itu sama supaya memudahkan penerbit menemukan file unduhannya nanti dan menunjukkan keprofesionalan kita juga.

Untuk pengiriman naskah ke penerbit mayor, kita harus menyertakan proposal naskah. Proposal naskah bisa dianggap sebagai lamaran kita terhadap penerbit agar naskah buku kita diterima penerbit. Proposal berisi judul buku, spesifikasi buku, sinopsis, dan outline, tujuan dan manfaat buku, sasaran pembaca, prospek pasar, keunggulan buku, sumber data, profil penyusun, lampiran (bab isi sebanyak 2 bab).

4) Menunggu Konfirmasi Penerbit
Setelah mengirim email, kita harus bersabar menunggu konfirmasi dari penerbit. Penerbit akan selalu mempertimbangkan naskah kita layak atau tidak untuk diterbitkan.

Hal-hal yang dinilai oleh tim redaksi penerbit antara lain:
Konsep tulisan sejalan dengan penerbit.
- Penyajian tulisan yang sistematis.
- Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar, efektif, dan sesuai keperluan.
-Tulisan rapi tidak banyak kesalahan pengetikan, ejaan, dan tanda baca.
-Tidak plagiat.
- Pembahasan yang mendalam.
- Gaya penulisan menarik.
- Naskah dibutuhkan masyarakat luas.
- Judul unik dan mempunyai nilai jual.
- Adanya buku sejenis yang sudah beredar.
- Kelebihannya dibandingkan buku sejenis yang beredar.
- Gaya penulisan berbeda dengan buku sejenis.
- Nama penulis (penulis baru atau lama).
- Biasanya lebih mendahulukan yang mau membiayai penerbitan sendiri (self publishing).
- Menjamin naskah dipesan dalam jumlah besar.

Jika tidak bisa membuat sampul untuk buku yang sudah kita tulis, kita tidak perlu khawatir. Penerbit biasanya memberikan jasa pembuatan desain sampul dan pengurusan ISBN. Proses pembuatan sampul, pengurusan ISBN, dan layout memerlukan waktu, maka kita harus bersabar. Sambil menunggu itu, kita bisa mempersiapkan tulisan baru.

5) Mempromosikan Buku

Perlunya Promosi
Promosi buku sangatlah diperlukan jika kita ingin buku yang kita tulis laris terjual. Promosi bisa dilakukan oleh berbagai pihak mulai dari penulis, penerbit, dan tim reseller.
Sebagai penulis di penerbit mayor, mungkin kita tidak terlalu pusing memikirkan pemasaran. Namun jika disertai promosi dari penulis juga tentu akan lebih baik lagi hasil penjualannya. Penerbit juga akan semakin terbuka menerima naskah-naskah kita selanjutnya.

Berbeda halnya jika kita menerbitkan buku secara indie. Kita harus mempromosikan buku tersebut sendiri. Target calon pembaca pun harus sudah dipikirkan sebelum membuat tulisan tersebut sehingga memudahkan mencari target pembeli nantinya.

Cara Promosi
Promosi tentu membutuhkan kecakapan, konsentrasi, dan waktu juga. Berbicara soal promosi berarti juga berbicara bisnis. Bisnis bisa dipelajari. Sebagai seorang penulis jika ingin tetap eksis dan terus berkarya, maka antara menulis dan bisnis, dua-duanya harus dipahami dan dipelajari supaya tidak berhenti di tengah jalan karena merasa tidak balik modal atau merasa rugi.

Promosi buku bisa diawali dengan membranding diri bahwa kita adalah guru sekaligus penulis. Perkenalkan diri kepada teman-teman bahwa sekarang kita sedang menggeluti dunia kepenulisan. Branding bisa dilakukan secara online di media sosial dan offline di lingkungan kerja dan daerah.

Promosi buku bisa dilakukan secara online dan offline juga. Perlahan namun pasti, penulis harus bisa belajar mempromosikan bukunya. Orang tidak akan tahu bahwa kita menulis sebuah buku jika tidak kita memberitahunya. Mungkin saat kita promosi di awal, mereka tidak butuh. Namun suatu saat ketika mereka butuh atau ada yang sedang mencari buku yang kita tulis, mereka akan mengingat kita karena kita sudah mempromosikannya kepada mereka. Oleh karena itu jangan takut mengenalkan karya kita kepada orang lain.

Meskipun buku yang kita tulis diterbitkan penerbit mayor dan kita tidak ikut campur dalam proses penjualannya, promosi tetap harus dilakukan. Dengan mempromosikan buku yang sudah kita tulis, pembaca akan lebih mudah mengenali buku kita ketika di toko buku dan bisa meningkatkan penjualan.

Note: Judul buku di cetak miring☝😣terlewat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Statistik Blog

SILABUS MATA PELAJARAN BAHASA INGGRIS

BERIKUT SILABUS MAPEL BAHASA INGGRIS